Home » Selected Contemplation » Hukum Memelihara Anjing

Hukum Memelihara Anjing

Bismillahirrahmanirrahim

  • Allah berfirman di dalam Quran mengenai cerita pemuda di dalam gua Ashabul Kahfi ditemani seekor anjing.

Thou wouldst have deemed them awake, whilst they were asleep, and We turned them on their right and on their left sides: their dog stretching forth his two fore-legs on the threshold: if thou hadst come up on to them, thou wouldst have certainly turned back from them in flight, and wouldst certainly have been filled with terror of them. (Kahfi: 18, English translation from www.surah.my)

Dan engkau sangka mereka sadar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri; sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa sepenuh-penuh gerun takut kepada mereka.  (Kahfi: 18, Malay translation from www.surah.my)

(Some) say they were three, the dog being the fourth among them; (others) say they were five, the dog being the sixth,- doubtfully guessing at the unknown; (yet others) say they were seven, the dog being the eighth. Say thou: “My Lord knoweth best their number; It is but few that know their (real case).” Enter not, therefore, into controversies concerning them, except on a matter that is clear, nor consult any of them about (the affair of) the Sleepers. (Kahfi: 22, English translation from www.surah.my)

(Sebahagian dari) mereka akan berkata: “Bilangan Ashaabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka “; dan setengahnya pula berkata:”Bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka” – secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: “Bilangan mereka tujuh orang, dan yang kedelapannya ialah anjing mereka”. Katakanlah (wahai Muhammad): “Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit”. Oleh itu, janganlah engkau berbahas dengan sesiapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam Al-Quran), dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorangpun dari golongan (yang membincangkannya). (Kahfi: 22, Malay translation from www.surah.my)

  • Juga terkabarkan lewat hadist terkabarkan bahwa: 1) seseorang masuk surga selepas Allah ridlo padanya karena memberi minum anjing yang sangat kehausan, 2) di jaman Nabi saw. masih hidup, anjing-anjing terbiasa lalu lalang dan kencing di sekitaran masjid dan anjing-anjing itu dibiarkan saja, 3) hewan hasil buruan dari anjing pemburu yang sengaja kita lepaskan dengan menyebut nama Allah adalah halal.

Narrated Abu Huraira:

The Prophet said, “A man saw a dog eating mud from (the severity of) thirst. So, that man took a shoe (and filled it) with water and kept on pouring the water for the dog till it quenched its thirst. So Allah approved of his deed and made him to enter Paradise.” And narrated Hamza bin ‘Abdullah: My father said. “During the lifetime of Allah’s Apostle, the dogs used to urinate, and pass through the mosques (come and go), nevertheless they never used to sprinkle water on it (urine of the dog.)” (Bukhari, Volume 1, Book 4, Number 174 from http://newtrendmag.org/bukhari04.htm )

Narrated `Adi bin Hatim

I asked the Prophet (about the hunting dogs) and he replied, “If you let loose (with Allah’s name) your tamed dog after a game and it hunts it, you may eat it, but if the dog eats of (that game) then do not eat it because the dog has hunted it for itself.” I further said, “Sometimes I send my dog for hunting and find another dog with it. He said, “Do not eat the game for you have mentioned Allah’s name only on sending your dog and not the other dog.” (Sahih Bukhari, Chapter: Ablutions (Wudu’), translation by M. Muhsin Khan from http://www.theonlyquran.com/hadith/Sahih-Bukhari/?chapter=4&hadith=172 )

  • Telah didapati pendapat Imam Malik yang tidak menajiskan air liur anjing dan bersentuhan dengan anjing merujuk pada pembahasan panjang lebar antara perbedaan pendapat beliau dibanding 3 Imam besar lainnya mengenai SATU hadist berikut:

Narrated Abu Huraira

Allah’s Apostle said, “If a dog drinks from the utensil of anyone of you it is essential to wash it seven times.”

(Sahih Bukhari, Chapter: Ablutions (Wudu’), translation by M. Muhsin Khan from http://www.theonlyquran.com/hadith/Sahih-Bukhari/?chapter=4&hadith=172).

Hadist ini juga dapat dibaca lewat Bukhari, Volume 1, Book 4, Number 173 from http://newtrendmag.org/bukhari04.htm.

Pemaparan panjang lebar mengapa Imam Malik berbeda pendapat dengan 3 Imam lainnya dapat dibaca lewat file PDF yang dapat diunduh di http://www.imamfaisal.com/fiqh-of-tahara/ dengan nama file: Impurity of Dog Saliva.

Volume 1, Book 9, Number 490:

Narrated ‘Aisha:

The things which annul the prayers were mentioned before me. They said, “Prayer is annulled by a dog, a donkey and a woman (if they pass in front of the praying people).” I said, “You have made us (i.e. women) dogs. I saw the Prophet praying while I used to lie in my bed between him and the Qibla. Whenever I was in need of something, I would slip away. for I disliked to face him.”

Artinya;

Berkatalah Aisyah: Hal-hal yang membatalkan doa disebutkan kepadaku. Mereka berkata, “Sholat terbatalkan oleh anjing, keledai dan perempuan (jika mereka melintas di depan orang yang sedang sembahyang)”. Aku berkata, “Engkau telah membuat kami (perempuan) seperti anjing. Aku melihat Nabi berdoa ketika aku sedang berbaring diantara beliau dan Kiblat. Kapanpun aku membutuhkan sesuatu, akan akan menyelinap pergi karena aku tidak suka berhadapan dengannya” (Sahih Bukhari 1.490)

Tidak ada hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan: Jika seorang wanita atau pun seekor anjing berlalu di depan kamu semasa kamu menjalankan doa dan solat anda, doa-doa itu tidak akan sampai ke Syurga!

Yang ada justru penyangkalan ‘Aisha terhadap orang-orang tertentu yang merendahkan wanita, ‘Aisha sendiri menceritakan bahwa ia biasa tidur di depan nabi ketika nabi Muhammad SAW sholat.

Bahkan pada nomor berikutnya :

Volume 1, Book 9, Number 491:

Narrated ‘Aisha:

The Prophet used to pray while I was sleeping across in his bed in front of him. Whenever he wanted to pray Witr, he would wake me up and I would pray Witr.

Dikisahkan nabi justru membiarkan ‘Aisha tidur di depannya ketika nabi mulai sholat malam dan ketika penutupan sholat ( witir), Nabi mengajak ‘Aisha untuk menjalankannya secara jemaah.

Saya akan ceritakan kronologis dari hadist tersebut:

Ada beberapa orang menemui Aisyah dengan membawa keterangan bahwa mereka mendengar  bahwa ada hadist yang berbunyi:

عن عبد الله بن الصامت، عن أبي ذر رضي الله عنه ، قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم : يَقْطَعُ صَلاَةَ الرَّجُلِ؛ إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ قِيدُ آخِرَةِ الرَّحْلِ( 1 ): الحِمَارُ، وَالكَلْبُ الأسْوَدُ، وَالمرْأةُ.

فَقُلْتُ: ماَ بَالُ الأسْوَدِ، مِنَ الأحْمَرِ، مِنَ الأصْفَرِ، مِنَ الأبْيَضِ؟ قَالَ: يَا ابْنَ أخِي! سَألْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا سَألْتَني، فَقَال: الكَلْبُ الأسْوَدُ شَيْطَانٌ.

رواه مسلم {4/228}.

Dari Abdullah bin Shamit dari Abu Dzar radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki- laki muslim –apabila tidak ada pembatas seperti pelana kuda– dapat dibatalkan oleh: keledai, anjing hitam, dan wanita.”

Lalu saya pun bertanya: “Mengapa dengan anjing hitam, bukannya yang merah, kuning ataupun putih?” Maka beliau menjawab: “Ya anak saudaraku, aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, lalu beliau menjawab, “Anjing hitam adalah setan” HR Muslim (4/228).

قالت عائشةُ رضي الله عنه -وذُكِرَ عندها ما يقطع الصلاة-: شبَّهْتُمُونَا بِالحُمُرِ وَالكِلاَبِ؟! وَاللهِ! لَقَدْ رَأيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، وَإِنِّي عَلى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ القِبْلَةِ مُضْطَّجِعَةٌ، فَتَبْدُو لي الحَاجَةُ، فَأكْرَهُ أنْ أجْلِسُ فَأوذِيَ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم ، فَأنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ.

رواه البخاري [1/773]، ومسلم [4/229[

Ketika diceritakan mengenai hal yang membatalkan shalat tersebut di hadapan ‘Aisyah, beliau berkata:“Kalian menyerupakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, dan sungguh aku berada di atas ranjang berbaring di hadapan beliau, lalu aku punya keperluan, dan aku benci untuk duduk sehingga mengganggu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,” (HR Bukhari (1/773) dan Muslim (4/229))

Berkatalah Aisyah: Hal-hal yang membatalkan doa disebutkan kepadaku. Mereka berkata, “Sholat terbatalkan oleh anjing, keledai dan perempuan (jika mereka melintas di depan orang yang sedang sembahyang)”. Aku berkata, “Engkau telah membuat kami (perempuan) seperti anjing. Aku melihat Nabi berdoa ketika aku sedang berbaring diantara beliau dan Kiblat. Kapanpun aku membutuhkan sesuatu, akan akan menyelinap pergi karena aku tidak suka berhadapan dengannya” (Sahih Bukhari 1.490)

Jika kita cermati hadits di atas menunjukkan bahwa wanita tidak membatalkan shalat seseorang, kalau berbaring di hadapannya saja tidak membatalkan apalagi lewat?

Adapun keledai telah diriwayatkan dalam haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

عن عبدالله بن عباس أنه قال: أقبلت راكبا على حمار أتان، وأنا يومئذ قد ناهزت الاحتلام، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى بالناس بمنى إلى غير جدار، فمررت بين يدى بعض الصف، فنزلت وأرسلت الأتان ترتع، ودخلت فى الصف، فلم ينكر ذلك على أحد(

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu berkata: Aku datang dengan seekor keledai betina, ketika itu aku telah baligh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama manusia di Mina tanpa ada dinding untuk sutrah, lalu aku lewat di hadapan shaf, laku aku turun dan membiarkan keledaiku mencari makan, namun tidak seorang pun mengingkariku) HR Bukhari (1/751) dan Muslim (4/221).

Hadits di atas menguatkan bahwa lewatnya keledai di hadapan orang shalat tidak membatalkan shalatnya.

Imam Nawawi dalam mensyarah hadits di atas mengatakan:

Adanya perbedaan antara kedua hadits ini menyebabkan para ulama berbeda pendapat terhadap masalah ini. Sebagian mereka mengambil hadits Abu Hurairah; sebagian lagi mengambil pendapat Aisyah. Imam Nawawi berkata, “Para ulama berbeda pendapat seputar hadits ini. Sebagian mereka berpendapat bahwa shalat terputus oleh wanita, keledai, dan anjing.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 4, hlm. 473).

Kemudian beliau (Imam Nawawi) melanjutkan pernyataannya:

Mayoritas ulama memandang hal ini tidak membatalkan shalat. Dalam kitab Syarah Shahih Muslim disebutkan, “Malik, Abu Hanifah, Syafi’i rahimahumullah, dan mayoritas ulama dari kalangan salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan) berpendapat bahwa shalat tidak batal karena melintasnya salah satu dari ketiga faktor di atas, ataupun yang lainnya. Mereka menginterpretasikan bahwa makna “terputus” dalam hadits adalah kurangnya nilai shalat karena hati sibuk dengan hal ini, dan tidak berarti membatalkannya.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 4, hlm. 474).

Sedangkan At-Tirmidzi rahimahullahu menceritakan dari Ahmad bahwa beliau hanya mengkhususkan anjing hitam. Sementara keledai dan wanita, beliau tawaqquf (mendiamkan, tidak memberikan pendapat, apakah membatalkan ataukah tidak, ).” (Nailul Authar, 3/14)

Memang dalam masalah ini didapatkan dua riwayat dari Al-Imam Ahmad rahimahulah. Kedua riwayat tersebut bersepakat bahwa anjing hitam dapat memutuskan/membatalkan shalat seseorang, namun kedua riwayat ini berselisih dalam masalah wanita dan keledai. Dalam satu riwayat beliau memastikan bahwa wanita dan keledai tidak memutus/membatalkan  shalat.

Riwayat yang pertama yaitu riwayat putra beliau bernama Abdullah dalam Masa`il-nya (1/340). Abdullah berkata, “Aku pernah bertanya kepada ayahku, ‘Apa saja yang dapat membatalkan shalat?’ Jawab beliau, ‘Anjing hitam, Anas radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan bahwa yang dapat memutus shalat adalah anjing, wanita, dan keledai. Adapun tentang wanita, maka aku berpendapat dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ibnu Daqiq mengatakan:”Ibnu Abbas menggunakan kalimat tidak ada yang menyanggahnya” sebagai dalil pembolehannya, dan bukan menggunakan kalimat ‘tidak ada yang mengulang shalatnya’, karena dengan menggunakan kalimat yang pertama dapat memberikan lebih banyak pengertian”. Yakni, kalimat ‘tidak ada yang mengulang shalatnya’ hanya menunjukkan bahwa shalat mereka tetap sah saja, dan tidak menunjukkan pembolehan berlalu di hadapan mereka yang sedang shalat, sedangkan kalimat ‘tidak ada yang menyanggahnya’ menunjukkan bahwa  tidak di larang untuk berlalu di hadapan mereka dan shalat mereka tetap sah.

Para ulama menggunakan atsar ini sebagai dalil bahwasanya apabila seekor keledai berlalu di hadapan seseorang yang sedang shalat, maka shalatnya tetap sah dan tidak batal.

Beberapa ulama (termasuk diantaranya Ath-Thawawi) mengatakan: Atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Aisyah telah menasakh (menhapuskan hukum) hadist di atas, yang disampaikan oleh penuding.

Sedangkan Imam Syafi’i dan ulama lainnya lebih condong untuk menfasirkan kata yaqtha’ pada hadist di atas dengan makna mengurangi kekhusyu’an, bukan membatalkan shalat. Pendapat ini diperkuat oleh pertanyaan yang diajukan oleh sahabat Nabi yang meriwayatkan hadist dengan makna yang sama, ia menanyakan apa dibalik warna hitam pada anjing, lalu dijawab oleh Nabi bahwa anjing yang berwarna hitam adalah Setan. Riwayat yang dimaksud adalah sabda Nabi:”Apabila kalian shalat, maka kalian dapat terjaga jika dihadapannya terhalangi oleh sesuatu (dengan tembok atau pohon). Namun jika tidak ada sesuatu yang menghalanginya, maka kekhusyuannya dapat terganggu oleh keledai, wanita ataupun anjing yang berwarna hitam.” (Kitab Shahih Al-Jami’:719)

Seperti diketahui jika setan berlalu dihadapan seseorang yang sedang shalat, maka shalat orang tersebut tetap sah dan tidak batal, sebagaimana sabda Nabi: “Apabila panggilan shalat dikumandangkan, maka setan akan berlari hingga keluar angin dari bokongnya, agar ia tidak mendengar azan itu. Lalu apabila panggilan itu telah selesai, maka ia akan kembali lagi, sehingga dikumandangkan iqamat, ia pergi lagi sampai iqamat itu selesai. Setelah iqamat itu selesai dikumandangkan, ia kembali untuk membisiki orang yang sedang shalat agar hatinya sulit untuk berkhusyu, ia akan mengatakan:ingatlah ini, ingatlah itu…dengan segala sesuatu yang tidak diingatnya ketika orang itu diluar shalatnya. Setan akan terus mengganggunya, hingga orang tersebut terlupa berapah raka’at yang telah ia kerjakan.” (kitab Shahih Al-Jami’:817)

Imam Ahmad mengatakan: “Shalat seseorang dapat menjadi tidak sah dengan berlalunya seekor anjing yang berwarna hitam, sedangkan wanita dan keledai dapat mengganggu kekhusyuannya.” lalu Ibnu Daqiq Al-Id dan Ulama lain menjelaskan pengertiannya, ia mengatakan: tidak ada riwayat yang bertentangan dengan penyebutan anjing yang berwarna hitam. Sedangkan untuk keledai terdapat atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, sedangkan untuk kaum wanita terdapat atsar yang diriwayatkan dari Aisyah.

Jadi, menurut sebagian ulama termasuk Imam Ahmad bahwa hadits wanita dan keledai telah mansukh atau batal, namun yang masih berlaku adalah untuk anjing hitam.

Adapun para ulama yang mengamalkan hadits pembatal di atas pun mereka mengatakan bahwa ini tidak bermaksud menyamakan wanita dengan keledai maupun anjing hitam. Wanita adalah makhluk yang indah dalam pandangan laki-laki, disini hanya sebatas dikhawatirkan mengganggu kekhusyu’kan, sama sekali tidak dianggap setara dengan anjing atau keledai. Itu adalah tuduhan yang keji kepada Islam dan bahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa

  • Juga telah sampai kepada kami dari kitab Al Muwatta karya Imam Malik lewat situs  http://ahadith.co.uk/chapter.php?cid=67 mengenai hewan yang diperoleh dari anjing terlatih / pemburu dari seorang muslim adalah halal sebagaimana pemaparan panjang lebarnya adalah sebagai berikut:

Hadith no: 5
Yahya related to me from Malik from Nafi that Abdullah ibn Umar said about a trained dog, “Eat whatever it catches for you whether it eats from it or not.”

Hadith no: 6
Yahya related to me from Malik that he heard Nafi say that Abdullah ibn Umar said, “Whether it eats from it or not.”

Hadith no: 7
Yahya related to me from Malik that he had heard that Sad ibn Abi Waqqas had said, when asked about a trained dog killing game, “Eat, even if only one piece of it remains.”

Hadith no: 8
Yahya related to me from Malik that he had heard some of the people of knowledge say that when falcons, eagles, and hawks and their like, understood as trained dogs understood, there was no harm in eating what they had killed in the course of hunting, if the name of Allah had been mentioned when they were sent out. Malik said, “The best of what I have heard about retrieving game from the falcon’s talons or from the dog’s fangs and then waiting until it dies, is that it is not halal to eat it.” Malik said, “The same applies to anything which could have been slaughtered by the hunter when it was in the talons of the falcon or the fangs of the dog. If the hunter leaves it until the falcon or dog has killed it, it is not halal to eat it either”. He continued, “The same thing applies to any game hit by a hunter and caught while still alive, which he neglects to slaughter before it dies.” Malik said, “It is generally agreed among us that it is halal to eat the game that a hunting-dog belonging to magians hunts or kills, if it is sent out by a muslim and the animal is trained. There is no harm in it even if the muslim does not actually slaughter it. It is the same as a muslim using a magian’s knife to slaughter with or using his bow and arrows to shoot and kill with. The game he shot and the animal he slaughters are halal. There is no harm in eating them. If a magian sends out a muslim’s hunting dog for game, and it catches it, the game is not to be eaten unless it is slaughtered by a muslim. That is like a magian using a muslim’s bow and arrow to hunt game with, or like his using a muslim’s knife to slaughter with. It is not halal to eat anything killed like that.

  • Telah diterima kabar akan jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin terhadap pertanyaan seseorang tentang hukum memelihara anjing penjaga rumah disarikan sebagai berikut:

Pertanyaan, “Jika ada orang yang memiliki anjing penjaga rumah, apa hukumnya?”

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, “Pada dasarnya memelihara anjing itu hukumnya haram karena

Nabi bersabda, ‘Siapa saja yang memiliki anjing kecuali anjing pemburu, penjaga tanaman atau penjaga hewan ternak berkurang pahalanya setiap harinya sebesar satu qirath [gunung besar]’.

Hadits di atas adalah dalil yang menunjukkan haramnya memelihara anjing jika tanpa tiga kebutuhan yang disebutkan dalam hadits di atas karena hukuman karena melakukan pelanggaran itu bisa berupa hilangnya sesuatu yang disukai atau pun terjadinya sesuatu yang tidak disukai. Hukuman yang Nabi sebutkan dalam hadits di atas adalah hilangnya sesuatu yang disukai karena berkurangnya pahala itu bermakna hilangnya sesuatu yang disukai oleh seorang mukmin.

Akan tetapi Nabi mengecualikan tiga jenis anjing, anjing pemburu, penjaga tanaman dan penjaga hewan piaraan. Hal tersebut dikarenakan adanya kebutuhan terhadap anjing pemburu yang dipergunakan untuk berburu, anjing penjaga hewan piaraan yang bertugas menjaga hewan ternak dari gangguan serigala serta anjing penjaga tanaman yang menjaga tanaman dari gangguan binatang yang hendak merusaknya.

Kebutuhan yang semisal dengan tiga kebutuhan di atas hukumnya sama dengan tiga kebutuhan di atas yaitu boleh karena syariat Islam tidak akan membedakan hukum dua hal yang sama.

Andai ada orang yang bertempat tinggal di pinggir kampung sehingga dia memerlukan anjing yang bertugas menjaga rumahnya dengan membangunkan pemilik rumah jika ada musuh, pencuri atau semacam itu yang hendak datang mendekat. Orang semisal ini serupa dengan pemilik tanaman, hewan ternak dan pemburu. Tidak mengapa bagi orang semisal itu untuk memelihara anjing dengan tujuan sebagaimana di atas.

Sedangkan orang yang memelihara anjing karena sekedar hobi sebagaimana kelakuan sebagian orang bodoh yang membebek orang-orang kafir baik dari timur atau pun dari barat, mereka adalah orang yang merugi dunia dan agama. Mereka rugi agama karena setiap hari pahalanya berkurang sebesar satu gunung besar. Sedangkan kerugian dunia adalah karena biasanya perlu uang dalam nilai yang besar untuk bisa memiliki anjing tersebut kemudian para pemilik anjing kesayangan ini memberikan perhatian luar biasa terhadap anjing tersebut melebihi perhatian mereka terhadap badan dan anak mereka sendiri.

Ada orang yang bercerita bahwa para pemilik anjing kesayangan tersebut setiap hari memandikan anjing peliharaannya dengan sabun dan memberikan minyak wangi padanya. Di samping itu, mereka membeli makanan yang enak-enak demi si anjing. Ini adalah sebuah ketololan. Andai anda mandikan anjing dengan menggunakan air lautan dan semua sabun dan pembersih yang ada di bumi ini sebagai pembersih badannya, anjing tersebut sama sekali tidak akan berubah menjadi bersih karena anjing itu sendiri adalah najis dan benda najis tidak akan berubah menjadi suci selama benda najis tersebut tetap eksis.

Oleh karena saya nasihatkan kepada saudaraku kaum muslimin agar bertakwa kepada Allah dan menjaga tindakan yang sia-sia, yang tidak memberi manfaat selain dosa, kerugian dunia dan kerugian akherat”.

sumber: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?p=47402 lewat situs: http://ustadzaris.com/hukum-anjing-penjaga-rumah

  • Melihat pendapat Imam Malik yang tidak menajiskan air liur anjing dan persinggungan dengan anjing dibandingkan dengan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin yang menajiskan anjing, maka pendapat manakah yang lebih baik, Wallahu ‘Alam. Perlu diingat bahwa agama bukanlah pendapat mayoritas, jadi bagaimana antum memahami fatwa itu bukan wilayah saya.
  • Jikalau merujuk pada kesepakatan yang tidak terbantahkan di antara pendapat-pendapat di atas maka anjing jikalau hendak dipelihara dengan tujuan yang diperbolehkan, maka ada pembatasannya agar tidak dimasukkan ke dalam rumah:

1684. Abu Talha reported that the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said, “Angels do not enter a house in which there is a dog or an image.” [Agreed upon]

1685. Ibn ‘Umar said, “Jibril promised the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, that he would come to him but he was slow in coming and that was hard on the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace. He went out and Jibril met him and he complained to him. He said, ‘We do not enter a house in which there is a dog or an image.” [al-Bukhari]

1686. ‘A’isha said, “Jibril, peace be upon him, made an arrangement with the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, for a time when he would come. That hour came but he did not come.” She said, “He had a staff in his hand and cast it from his hand, saying, ‘Neither does Allah break His promise nor do His Messengers.” Then he turned round and there was a puppy dog under his seat. He said, ‘When did this dog come in?” I said, ‘By Allah, I was not aware of it.’ He commanded that it be taken out and then Jibril, peace be upon him, came to him and the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said, ‘You made an arrangement with me and I sat waiting for you but you did not come.’ He said, ‘The dog which was in your house prevented me. We do not enter a house in which there is a dog or an image.'” [Muslim]

Sumber: http://www.sunnipath.com/library/Hadith/H0004P0305.aspx

  • Sebagai tambahan, ada yang membolehkan anjing dimasukkan ke dalam rumah karena kedaruratan adalah khusus terhadap anjing penuntun orang buta.

Question:

assalamu alaikum! My question was in regards to dogs in the house. do angels come into a person house if they have a dog?I heard they wouldnt enter the house but to me that wouldnt make sense considering they arent totally prohibited if there for protection,used for the blind, hunting etc..my other question is what if you started off having a dog as a pet but later use it or them for protection meaning they bark to let you know when someone is in or around the house is this okay? I just need clearification because im hearing many opinions.

Answer:

All praise is due to Allah.

Walaikum salam wrt wb, may Allah reward you for your question.

Keeping a dog inside of one’s house is prohibited. The Messenger of Allah, may the blessings of Allah and peace be upon him, stated in Bukhari: “The angels do not enter a home in which there is a dog.”

In another narration, Abu Hurayrah (may Allaah be pleased with him) stated that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Whoever keeps a dog, except a dog for herding, hunting or farming, one qiraat (large amount of reward) will be deducted from his reward each day.” Narrated by Muslim

The way we understand these two texts together is that the dog kept for herding, hunting, or farming must be kept outside of the house.

Regarding keeping a guard dog, the scholars permitted this provided it does not enter the house, and one takes care that its saliva does not soil one’s vessels, clothing, and body, etc. This is because the saliva of a dog is considered a physical impurity which would invalidate ritual purity by the majority of the Ulema.

An exception is made for a seeing-eye dog that belongs to a blind person, since the Ulema state that “necessities permit the forbidden.”

And Allah knows best.

Sumber: http://www.imamfaisal.com/islam-question-and-answer/page/6/

  • Meskipun demikian, nilai kedaruratan seseorang buta di dalam mempunyai anjing penuntun yang dipelihara di dalam rumah bisa disanggah dengan ways atau tools yang banyak tersedia bagi mereka yang buta (mis. penghapalan letak benda-benda di dalam rumah, tongkat penuntun, dsb.).
  • Lepas dari itu semua, pertanyaannya sebenarnya kembali ke hal paling dasar; Mengapa harus memelihara anjing? Sudahkah terpaksa? Ataukah perlu yang mendesak? Apakah antum kemudian menjadi ragu memahami pembahasan “halal” dan “haramnya” memelihara anjing?
  • Bukankah telah sampai kisah kepada orang yang beriman bahwa berhati-hati dalam suatu perkara adalah selalu lebih baik? Silakan baca kajian ini (Disarikan dan diedit dari http://kajiankantor.com/blog/2010/12/02/waro-menghindari-yang-syubhat/ tulisan  ):

Apakah yang dimaksud dengan syubhat? Syubhat adalah sesuatu hal yang dirasa kurang jelas antara halal atau haram. Pada dasarnya hal/perkara tersebut sudah jelas mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan, namun dikarenakan keterbatasan ilmu/pengetahuan kita atau hal-hal yang lain maka menjadi kurang jelas perihal halal dan haram-nya. Terkait dengan tema menghindari hal-hal yang syubhat, berikut beberapa kisah-nya

Dari Aisyah ra berkata, Abu Bakar As Shiddiq ra mempunyai seorang hambasahaya yang memberikan kepadanya sebagian pendapatan wajibnya. Lalu, Abu Bakar biasa makan dari hasil kharaj tadi. Pada suatu hari hambasahaya itu datang padanya dengan membawa sesuatu, kemudian Abu Bakar juga memakannya. Selanjutnya dia berkata pada Abu Bakar: “Tahukah tuan, hasil dari manakah ini?” Abu Bakar bertanya: “Memang dari mana?” Ia menjawab: “Dahulu pada jaman jahiliyah saya pernah meramal seseorang, padahal saya sendiri sebenarnya tidak tahu masalah peramalan, melainkan saya hanyalah menipunya belaka. Tadi ia menemui saya lalu sebagai tanda terima kasih, dia memberikan pada saya sesuatu yang Anda makan itu.” Abu Bakar lalu memasukkan tangannya ke dalam kerongkongannya, lalu memuntahkan segala sesuatu yang ada dalam perutnya (HR. Bukhari)

Dari Abu Sirwa’ah, ‘Uqbah bin al-Harits ra bahwa ia menikah dengan putri Abu Ihab bin ‘Aziz. Kemudian datanglah seorang wanita, lalu berkata: “Sesungguhnya saya yang menyusui ‘Uqbah (saat masih kecil) serta perempuan yang menikah dengannya (jadi keduanya adalah saudara sesusuan ((Aisyah r.a mengatakan, Muhammad Rasulullah Saw bersabda : ” Haram menikah karena sesusuan, semua yang diharamkan karena sekandungan” -HR.Muslim-)) yang haram menjadi suami isteri)”. Kemudian ‘Uqbah berkata kepada wanita tadi: “Saya tidak tahu bahwa anda telah menyusui saya dan selama ini anda tidak pernah memberitahukan hal itu.” ‘Uqbah lalu pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah, kemudian menanyakan perkara itu padanya. Rasulullah SAW lalu bersabda: “bagaimana lagi, sudah ada yang berkata demikian.” Selanjutnya ‘Uqbah lalu menceraikan isterinya dan menikah dengan wanita lain (HR. Bukhari)

Dari an-Nu’man bin Basyir ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itupun jelas pula. Diantara kedua macam hal itu ada beberapahal yang syubhat (samar-samar). Sebagian besar manusia tidak dapat mengetahui dengan jelas apa-apa yang subhat itu. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari perkara syubhat, maka ia telah melepaskan dirinya dari melakukan sesuatu yang mencemarkan agama serta kehormatannya. Dan barang siapa yang telah jatuh dalam perkara syubhat, maka bisa-bisa jatuhlah ia dalam keharaman, sebagaimana halnya seseorang penggembala yang menggembala di sekitar tempat yang terlarang, hampir saja ternaknya itu makan dari tempat larangan tadi. Ingatlah bahwasannya setiap raja itu memppunyai larangan-larangan. Ingatlah bahwasannya larangan-larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan oleh-Nya” (Muttafaq Alaih)

Dari Wabishah bin Ma’bad ra berkata: Saya mendatangi Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau datang hendak menanyakan perihal kebaikan?” Saya menjawab: “Ya.” Beliau SAW lalu bersabda lagi: “Mintalah pertimbangan pada hatimu sendiri. Kebaikan itu ialah hal yang membuat jiwa itu menjadi tenang di waktu melakukan dan hatipun tenang pula marasakannya. Sedang dosa ialah apa-apa yang engkau rasakan bimbang dalam jiwa serta ragu-ragu dalam dada sekalipun orang banyak telah memberikan fatwanya padamu” (Hadist Hasan yang diriwayatkan oleh Imam-imam Ahmad dan ad-Darimi dalam kedua musnadnya)

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma telah berkata : “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “.
(HR. Tirmidzi dan berkata Tirmidzi : Ini adalah Hadits Hasan Shahih) [Tirmidzi no. 2520, dan An-Nasa-i no. 5711]

  • Jadi semua kembali kepada antum, ADA SANGAT BANYAK opsi selain memelihara anjing sebagai penjaga rumah. Namun meskipun demikian, dibolehkan juga memelihara anjing untuk menjaga ladang, ternak, dan sebagai teman berburu ASALKAN tidak dimasukkan ke dalam rumah tinggal kita sebagai kompromi menyatukan pendapat-pendapat yang sudah dipaparkan di atas. Tidak ada pelarangan mutlak, tidak ada pembolehan mutlak namun jika bisa dihindari untuk tidak memeliharanya mengapa memilih untuk memeliharanya?

Wallahu ‘Alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s