Home » Selected Contemplation » Menyoal Kenajisan Air Liur Anjing

Menyoal Kenajisan Air Liur Anjing

Tulisan ini merupakan terjemahan dan ringkasan dari “Class 4: Fiqh of Purification / Impurity of Dog Saliva” yang teks aslinya bisa didownload di sini.

Bismillahirrahmanirrahim

Narrated Abu Huraira, Allah’s Messenger said: 
"The cleansing of the utensil
belonging to one of you, after it has been 
licked by a dog, is to wash it
seven times, using soil for cleaning 
the first time." And in a narration,
"he should spill out [its contents]." Reported by Muslim
-
-

Diriwayatkan oleh Abu Huraira r.a., Rasul saw. berkata: “Pembersihan wadah milikmu yang terkena jilatan anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, dengan tanah dipakai dalam basuh cuci yang pertama”. Juga di dalam suatu riwayat, “juga dibuang isi yang ada di dalam wadah itu”. Riwayat Muslim.

  1. Abu Huraira meriwayatkan bahwa Rasul berkata: “perbersihan (tuhoor) wadah milikmu …”. Tuhoor mempunyai dua arti: 1) membersihkan diri dari keadaan tidak suci; 2) membersihkan sesuatu dari bekas najis. Karena di dalam riwayat ini adalah wadah maka wadah itu dibersihkan karena terkena sesuatu yang sifatnya najis. Pendapat ini dipegang oleh tiga imam: Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. Dengan demikian dikatakan bahwa saliva (air liur) dan jilatan anjing adalah najis. Perintah pembersihan berarti bahwa sesuatu itu terkena najis. Perintah tujuh kali pencucian dengan basuh cuci yang pertama digunakan tanah menekankan kenajisan [air liur anjing tersebut].
  2. Imam Malik tidak setuju dengan pendapat tersebut [pen. bahwa tuhoor hanya memiliki dua arti saja]. Ada arti lain dari kata tuhoor yaitu membersihkan sesuatu dari kotor dan tidak melulu najis. Imam Malik merujuk pada ucapan Rasul saw. “Siwak adalah pembersih atas mulut”. Di dalam hadist tersebut Rasul saw. tidak merujuk pada: ada najis di dalam mulut dan atau keadaan hadats-nya mulut. Dan Allah juga berfirman “Wa thiyaabak fa tahhir” [pen. 74: 4] sedangkan tidak ada najis pada pakaian Rasul saw. Perintah dalam ayat ini mengandung arti “jagalah kebersihannya” atau secara metafor adalah perintah pembersihan dari dosa-dosa kecil.
  3. Imam Malik berkata bahwa hadist tersebut memerintahkan pembersihan bukan dari najis. Jikalau merujuk kepada najis maka cukuplah pencucian satu kali sebagaimana halnya dikenakan perlakuan kepada najis-najis lainnya. Khusus tentang jumlah basuh cuci, Imam Abu Hanifah sependapat dengan Imam Malik tentang ketidakharusan untuk mencuci sebanyak tujuh kali.
  4. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, mayoritas Imam menyatakan bahwa jika seekor anjing menjilat sebuah wadah maka bekas jilatan tersebut harus dicuci tujuh kali dengan sekali memakai tanah untuk menghilangkan najis. Berbeda dengan mayoritas Imam, Imam Malik mengatakan bahwa pembersihan tersebut bukan untuk menghilangkan najis yang terdapat pada bekas jilatan tersebut namun hanya pembersihan dari kotoran sebagai bentuk mengikuti perintah Rasul saw. dan alasan kesehatan. Imam Malik menyatakan bahwa wadah yang dijilat anjing adalah suci [tidak bernajis].

Pertanyaan lalu muncul, mengapa kita diperintahkan mencucinya? Marilah kita kaji bersama.

Jumhur mengatakan bahwa air liur anjing adalah najis. Dengan demikian maka jika seekor anjing meminum dari sebuah wadah maka isi wadah tadi juga terkena najis. Bagaimana jika seekor anjing memakan makanan kering?

  • Maka bagian yang dimakan atau kena anjing tadi dibuang sedang sisanya suci.

Hal ini bersesuaian dengan perintah Rasul saw. berkait dengan tikus yang jatuh pada keju padat (solid ghee) dan lalu mati [pen. silakan dirujuk kepada hukum mengenai “bangkai”]. Rasul memerintahkan agar keju padat di sekitar tikus tadi dibuang sedang sisanya bisa dipakai.

  • Keadaan menjadi berbeda jikalau kejunya tidak padat namun cair (fluid ghee). Jika tikus tadi jatuh dan mati dalam keju cair maka seluruh keju cair tadi harus dibuang.

Demikian juga berlaku terhadap segala makanan maka jika anjing menjilat pada minuman semua bagian minuman tersebut menjadi bernajis. Hal ini berlaku pada mulut anjing. Lalu bagaimana terhadap bagian lain dari tubuh anjing?

Pertanyaan yang muncul adalah: Jika seekor anjing memasukkan kakinya ke dalam suatu wadah yang berisi cairan, apakah semua cairan tersebut bernajis? Jika ya, apakah harus dicuci tujuh kali dengan salah satunya dicampur dengan tanah?

  • Beberapa Mahzab mengatakan tidak demikian sebab najis hanya berlaku pada jilatan anjing.
  • Meskipun demikian, Mahzab Syafi’i mempunyai pendapat bahwa sebab mulut merupakan bagian penting dari seluruh tubuh [pintu masuk] maka bagian lain dari tubuh anjing juga dihukumi sama. Syafi’i berkata bahwa keringat anjing diproduksi dari dalam tubuh anjing sebagaimana air liur anjing juga diproduksi dari dalam tubuh yang sama. Oleh sebab itu sentuhan terhadap anjing akan membuat tangan terkena najis sebab najis ditularkan lewat basahnya bagian.
  • Jika demikian pendapatnya didirikan, kita bisa menolak sebab anjing tidak berkeringat. Anjing menggunakan lidahnya untuk mendinginkan tubuh. Kulit anjing tidak mengeluarkan keringat.
  • Jika anjing mendapati air, maka ia akan menceburkan diri untuk pendinginan tubuh, namun jika tidak didapatinya air maka ia akan menjulurkan lidahnya untuk pendinginan tubuh.

Lalu bagaimana jika kita berasumsi bahwa anjing yang disentuh basah [bukan karena keringatnya karena memang tidak ada keringat], apakah tetap dihukumi najis disentuh?

  • Ya menurut pendapat Imam Syafi’i. Persentuhan dengan bagian manapun dari tubuh anjing yang basah mengharuskan pencucian tujuh kali dengan salah satunya dengan tanah.
  • Semua bagian ajing itu jika basah maka memberi najis. Demikian menurut pendapat Imam Syafi’i.

Hadist tentang jilatan anjing kepada wadah merupakan contoh hadist yang baik di dalam mendalami pemahaman akan penafsiran hadist. Ibn Daqeeq mengulas tentang hadist ini di dalam kitabnya al-Imam sampai dengan 15 halaman.

Jadi dapatlah diringkas sebagaimana berikut ini:

  1. Jumhur berpendapat jika anjing menjilat wadah maka wadah tersebut harus dicuci tujuh kali dengan salah satu basuh-cucinya dengan tanah.
  2. Imam Syafi’i [lebih ketat terhadap masalah ini], berpendapat jikalau apapun bagian tubuh anjing menyentuh air yang berada di dalam wadah, maka dihukumi cuci tujuh kali dengan salah satunya adalah basuh-cuci dengan tanah.

Apakah ada hewan lain yang dihukumi sama? Imam Syafi’i [pen. dalam konteks persentuhan dengan air dan atau bejana] menghukumi babi sama dengan anjing sebab babi lebih najis daripada anjing.

Juga beberapa dari Mahzab Malikiyyah menghukumi tersebut kepada anjing yang tidak terlatih. Sedangkan untuk anjing terlatih, jilatan anjing tidaklah perlu dicuci dengan cara tersebut. Namun mayoritas mahzab Malikiyyah berpendapat bahwa jilatan anjing, baik anjing terlatih maupun tidak, harus dicuci wadah jikalau menjilat wadah (bukan karena kenajisannya namun sebagai bentuk mengikuti perintah Rasul saw.).

Lalu bagaimana jika jilatan anjing mengenai tampungan air yang lebih besar dari wadah semisal tong besar, kulah, atau kolam apakah serta merta bernajis? Jawabannya: tidak.

Diriwayatkan bahwa Rasul saw. dalam perjalanan antara Mekah dan Madinah dan menemukan kolam air kecil. Umar r.a. kemudian berkata: “wahai pemilik kolam, apakah hewan [pemakan daging] meminum dari kolammu?” Kemudian Rasul saw. berkata: “Wahai pemilik kolam, tidaklah usah engkau beritahukan kepada kami, Umar ini berlaku berlebihan, sebab hewan [pemakan daging] punya hak untuk meminum sebagaimana air yang telah diminum, sedangkan boleh dan suci bagi kami untuk minum sisa air mereka dari kolam ini”.

Dan berdasar riwayat-riwayat lain dikisahkan bahwa anjing-anjing dan hewan pemakan daging lainnya meminum dari kolam tersebut.

Berdasar hadist tersebut, maka tampaklah bahwa Rasul saw. menyiratkan bahwa air dari kolam tersebut tidaklah terkena najis karena anjing yang meminum darinya.

Mereka yang berpendapat bahwa air liur anjing najis berargumen bahwa air kolam tersebut tetap suci karena lebih dari dua kulah (qullatain) [pen. silakan dirujuk kepada hukum mengenai “air dua kulah”].  Air dalam jumlah yang banyak dan tidak berubah kualitas ke-air-annya tetaplah suci meskipun terkena najis. Sedangkan menurut jumhur, air dalam jumlah sedikit yang dijilat anjing menjadi bernajis meskipun kualitas ke-air-annya tidak berubah olehnya. Demikian ini berbeda mereka dengan pendapat Imam Malik.

Jika Imam Malik berpendapat air di dalam wadah yang dijilat oleh anjing tetaplah suci sedangkan pencucian wadahnya adalah hanya bentuk mengikuti perintah Rasul saw. bukan karena kenajisannya, maka hujjah apakah yang ia punyai?

Imam Malik menyatakan bahwa esensi dari dari tubuh semua hewan adalah suci sedangkan bangkai semua hewan adalah najis. Dia kemudian merujuk kepada salah satu ayat di dalam Quran, surah Maidah: 4.

Mereka bertanya padamu (wahai Muhammad) tentang apa yang dihalalkan untuk mereka. Katakanlah: “dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil dari binatang pemburu yang kamu ajar, kamu ajar mereka dari apa yang Allah ajarkan padamu. Makanlah dari yang mereka tahan untukmu, dan sebutlah nama Allah atasnya. Insaflah pada Allah bahwa Allah sangat cepat dalam perhitungan”.

Sebagaimana terdapat di dalam ayat tersebut, Imam Malik menyatakan bahwa perburuan di dalam ayat tersebut adalah dengan anjing dan tidak ada perintah untuk mencuci hewan tangkapan anjing pemburu tadi. Dan di dalam ayat ini, anjing pemburu tadi menangkap burung dengan seluruh mulutnya namun tidak ada perintah untuk mencuci burung hasil tangkapan anjing pemburu itu.

Jumhur menanggapi pendapat Imam Malik dengan mengatakan bahwa titik di mana anjing menggigit hewan hasil buruan diperintahkan untuk dibuang dan apa yang tersisa dari bagian burung tersebut dimasak dengan api [dibakar] dan api membuat kenajisan menjadi hilang.

Imam Malik menolak pendapat tersebut. Burung hasil tangkapan anjing tadi tidaklah perlu untuk dicuci sebab itu bersih dan tidaklah perlu untuk dibersihkan.

Pendapat Imam Malik ini juga diperkuat oleh hadist yang terdapat di dalam bagian Taharah dari kitab Imam al-Bukhari meskipun tidak berklasifikasi sahih menurut syaratnya yang berbunyi:  “anjing-anjing terbiasa berseliweran lewat masjid nabi”.

Imam Bukhari ketika memasukkan hadist ini di dalam kitabnya sebenarnya berkait dengan alasan yang penting. Bukhari merujuk kepada kisah ketika Banu Thaqeeb berkunjung kepada Nabi saw. di tahun 9 AH. Mereka bermukim di dalam tenda di masjid nabi dan berdiskusi tentang Islam kepada nabi. Nabi saw. menyediakan mereka makanan dan minuman sedangkan anjing-anjing pasti masuk ke dalam masjid sembari mengendus-endus mencari remah makanan dan dengan demikian maka air liur anjing pasti tersebar ke mana-mana. Namun meskipun demikian keadaannya, Nabi saw. tidaklah memerintahkan membersihkan tanah di dalam masjid yang kena air liur anjing.

Jikalau air liur anjing itu najis, pastilah Rasul saw. memerintahkan agar anjing jangan masuk ke dalam masjid dan atau memerintahkan tanah di dalam masjid yang terkena air liur anjing.

Sekarang kita telah mengkaji perbedaan pendapat di antara mahzab besar. Dapatlah kita simpulkan sebagai berikut ini:

  1. Imam Malik menyatakan bahwa air liur anjing tidaklah najis.
  2. Mahzab lain menyatakan bahwa air liur anjing adalah najis.

Lalu hujah apakah yang membuat pengharusan basuh-cuci bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah?

  • Imam Malik menyatakan bahwa basuh-cuci tujuh kali [pen. khusus pada jilatan anjing atas wadah] adalah perkara kepatuhan akan perintah Rasul saw. dan alasan pembuangan air [pen. jika dalam jumlah yang sedikit] yang terkena jilatan anjing dan basuh-cuci wadah airnya adalah karena alasan kebersihan dan kesehatan. Sebagaimana diketahui bahwa anjing dapat terkena rabies. Jika anjing rabies menggigit orang lewat bakteri yang terkandung di air liurnya maka orang itu akan terkena rabies. Perintah membersihkan dengan basuh-cuci tujuh kali dengan air dengan salah satunya dengan tanah adalah bertujuan menghilangkan bakteri tersebut.
  • Menanggapi pendapat Imam Malik tersebut, jumhur menolak dengan mengatakan bahwa anjing rabies tidaklah minum air. Jika ada anjing minum air atau menjilat air maka anjing itu bukanlah anjing rabies.
  • Imam Malik membantah pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa anjing tidaklah merasa terjangkiti rabies kecuali setelah 15 hari kontaminasi. Selepas 15 hari, anjing mulai merasa sakit karena bakteri rabies sudah mulai menjalar di dalam tubuhnya. Imam Malik menambahkan bahwa sudah merupakan kebijakan di dalam syariah, pembersihan dari air liur anjing baik anjing tersebut jelas kena rabies maupun tidak bertujuan menutup pintu potensi keburukan [kena bakteri rabies].

Sekarang kita beralih pada digunakannya tanah.

  • Apakah hikmah digunakannya tanah di dalam basuh-cuci jilatan anjing sudahlah terbuktikan oleh penelitian bahwa tidak ada zat yang lebih besar dayanya di dalam membunuh bakteri rabies kecuali dengan fluorine, dan fluorine dapatlah ditemukan dalam jumlah yang memadai di dalam tanah.
  • Jikalau tanah ini dicampur dengan air, maka efek pembunuhan bakteri rabies akan lebih berdaya. Dengan demikian pendapat Maliki diperkuat oleh penemuan dunia modern.
  • Lalu mengapa harus tujuh kali? Jikalau ditanyakan demikian, menurut perspektif medis, perulangan pembersihan akan membuat kebersihan akan jadi lebih maksimal.
  • Sedangkan kepada mereka yang menyatakan bahwa air liur anjing adalah najis, apakah bekas air liur anjing tetap harus dibasuh-cuci dengan melibatkan tanah? Mahzab Hanbali ada yang menyatakan bahwa hal demikian dapatlah digunakan sabun. Akan tetapi ada hal bakal timbul jika dipakai sabun sebagai penggant tanah. Menurut teks, perintahnya adalah dengan tanah dan bukan dengan lainnya. Ibn al Daqeeq al Eid mengatakan bahwa tidaklah tepat menggunakan qiyas ketika teks-nya jelas.
  • Diperintahkannya air + tanah merupakan bentuk penekanan yang jelas dari perintah itu. Sebab secara kaidah, jika pendapat turunan berbeda dengan teks asal maka pendapat turunan tersebut tidak bisa dipakai.

Demikian kita telah mengkaji pendapat ulama-ulama mengenai air liur anjing. Pemaparan akan perbedaaan pendapat disertai argumen berdasar ijtihad mereka semoga dapat menjadikan kita lebih paham duduk perkara yang sebenarnya mengenai najis tidaknya air liur anjing.

Akhirul kalam.

Wallahu a’lam.

Alhamdulillahirabbil’alamin.

(diedit beberapa kalimat terjemahan, cetak tebal, dan tata paragraf pada Kamis tanggal 31 Oktober 2013. Untuk hukum memelihara anjing, silakan dirujuk kepada tulisan di blog ini. Jikalau ada kekeliruan, mohon ditegur. Jazakumullah khairan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s