Home » Academic Article » Sastra dan Pembaca

Sastra dan Pembaca

Mengapa terjadi perbedaan interpretasi terhadap sebuah karya bersamaan dengan perubahan waktu sebagaimana disinggung oleh Hans Robert Jauss lewat studinya akan karya Gustave Flaubert yang berjudul Madame Bovary (Teeuw, 1984: 204-206)? Apakah lantas perbedaan tersebut menjadikan interpretasi sebelumnya salah dan yang terkemudian adalah lebih benar? Benarkah bahwa interpretasi dari pencipta suatu karya lebih benar daripada interpretasi pembaca sebagaimana perbedaan penafsiran sajak Sitor Situmorang Bulan di atas Kuburan oleh Sitor Situmorang (dalam Eneste ed., 1989: 348-349) yang berbeda dengan tafsir yang diberikan oleh Umar Junus (1981: 73)? Atau, bukan siapa yang lebih duluan menginterpretasi atau siapa yang mencipta karya adalah pemilik hak tunggal interpretasi namun apakah seseorang boleh mengklaim bahwa interpretasinya lebih benar sembari menuduh yang lain kurang kompeten sebagaimana dikoarkan oleh Michael Riffaterre ketika mencerca interpretasi Jakobson dan Levi-Strauss terhadap sajak Baudelaire yang berjudul Le Chats (dalam Selden dkk., 1997: 60-61)? Mengapa fenomena ini juga terjadi pada waktu yang sama pada persona yang berbeda seperti pada kasus Five Readers Reading sebagaimana dikemukakan oleh Norman Holland yang menunjukkan perbedaan yang terjadi di antara 5 pembaca undergraduate pada teks yang sama (Culler, 1981: 52 – 53)? Lalu mengapa perbedaan interpretasi tersebut tetap muncul ketika persona yang berbeda menggunakan konvensi prosedur interpretasi yang sama? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul di dalam kajian Sastra dan Pembaca.

Hans Robert Jauss (credit: seemoz.de)

Hans Robert Jauss (credit: seemoz.de)

Wolfgang Iser (dalam Selden dkk., 1997: 50) mengatakan bahwa teks sastra selalu memiliki “daerah-daerah kosong / blanks” dan hanya pembaca sajalah yang dapat mengisinya. Tindak interpretasi selalu memaksa pembaca untuk mengisi daerah-daerah kosong tersebut. Masalah yang dihadapi teori sastra adalah selalu mengenai benarkah teks itu sendiri yang menyulut tindak interpretasi pembaca, ataukah strategi pembacalah di dalam interpretasi yang mendorong kepada solusi-solusi mengenai beberapa hal yang ditampilkan suatu teks. Masih menurutnya (dalam Selden dkk., 1997: 56), teori sastra bukanlah kegiatan yang menjelaskan teks sebagai sebuah objek namun harus difokuskan kepada efek yang ditimbulkannya terhadap pembaca. Ia juga mengajukan istilah implied reader yaitu jenis pembaca yang melebihi batasan-batasan superreader (istilah Riffaterre), informed reader (istilah Stanley Fish), dan intended reader (istilah  Erwin Wolff) (dalam Fish, 1999: 1). Jika superreader adalah pembaca yang memiliki beragam kompetensi di dalam mengurai dan menafsir kaitan kode-kode yang ada di dalam teks sehingga muncul makna suatu karya, jika informed reader adalah pembaca yang mempunyai kompetensi sastra dan bahasa; pengetahuan sosial, historis, dan semantis untuk menafsirkan teks dan juga menyadari posisinya sebagai pembaca teks dan lalu dengan kesadarannya itu ia mulai menggali makna teks, atau dengan kata lain pembacaan adalah proses evolusi makna dan transformasi kesadaran seorang pembaca, jika intended reader adalah pembaca yang mampu merekonstruksi apa yang ada di pikiran pencipta teks sebagai usaha penyingkapan jenis kultur seperti apa yang dituju oleh pencipta teks, Iser menyodorkan istilah implied reader. Implied reader adalah pembaca yang memperoleh makna suatu teks lewat “efek yang ditimbulkan oleh struktur teks”. Pertemuan antara pembaca dan teks sebenarnya berlangsung di dalam aktivitas ideational dan menjadi pengalaman personal sehingga penafsiran mungkin menjadi berbeda-beda pada setiap orang.

Wolfgang Iser (credit: Leonardo Aversa)

Wolfgang Iser (credit: Leonardo Aversa)

Berdasar apa yang dikemukakan oleh Hans-Georg Gadamer di dalam karyanya Truth and Method bahwa memang harus diakui bahwa karya sastra tidaklah muncul ke hadapan pembaca sebagai sebuah bongkok makna yang utuh dan rapi, namun karya sastra muncul sebagai entitas yang, meminjam istilah Iser, memiliki daerah-daerah kosong yang pengisian oleh pembaca tergantung dari pengalaman yang pembaca miliki (dalam Selden dkk., 1997: 53). Gadamer juga melihat berubah-ubahnya interpretasi yang ada karena pembaca hanya bisa mengisi daerah-daerah kosong tersebut dan juga mempertanyakan hal-hal yang berkait dengannya hanya dalam konteks pengetahuan kini yang ia miliki. Sedangkan menurut Gadamer (dalam Selden dkk., 1997: 54) perspektif kini yang dimiliki seorang pembaca selalu mempunyai kaitan erat dengan masa lalu, sedangkan ironisnya, masa lalu hanya dapat ia pahami berdasar keterbatasan perspektif masa kini. Jikalau perspektif kini dapat mencakup segala hal yang berkait dengan masa lalu tanpa tereduksi, maka bentuk-bentuk perbedaan yang muncul di dalam penafsiran bakal mudah teridentifikasi. Oleh karenanyalah, Hans Robert Jauss menyodorkan istilah horizon of expectations. Istilah horizon of expectations sendiri melatarbelakangi pencakupan dimensi historis ke dalam kajian kritik yang berorientasi kepada pembaca. Horizon of expectations adalah kriterai-kriteria yang dipakai para pembaca di dalam menilai karya sastra berdasarkan periode tertentu. Tidaklah bisa dikatakan benar jika ada anggapan bahwa sebuah karya bersifat universal, dan maknanya sudah tetap tak mungkin berubah. Karya sastra selalu terbuka kepada penafsiran-penafsiran baru dengan horizon of expectations yang berubah. Ia mengatakan bahwa: “A literary work is not an object which stands by itself and which offers the same face to each reader in each period. It is not a monument which reveals its timeless essence in monologue” (dalam Selden dkk., 1997: 54) atau dengan istilah lain; nilai dan tafsiran sebuah karya  muncul pada saat karya tersebut hadir di hadapan pembaca dan tentunya dengan gudang kriteria yang berubah. Masih menurut Jauss (dalam Pradopo, 1995: 207-209), karya sastra akan selalu menampilkan wajah yang berbeda kepada masing-masing pembaca pada setiap periode karena sebagaimana telah diulas, perbedaan periode dan atau pembaca bakal memulakan ekspektasi yang berbeda mengenai konsep apa itu sastra dan bagaimana cara membacanya senada sebagaimana disampaikan oleh Roman Ingarden (dalam Meerzon,  hlm. 1) bahwa kualitas dan kuantitas konkretisasi “nilai estetik” sebuah karya sastra lewat pembacaan seorang pembaca selalu menampilkan hasil yang tidak bisa diduga tergantung tingkat intelegensia dan emosional tiap pembaca dan juga pendapat Felix Vodicka (dalam Meerzon, hlm. 1) bahwa konkretisasi nilai estetik karya sastra sendiri niscaya selalu berubah sebab tiap perubahan periode kerap pula memberikan perubahan standar estetitas pula ditambah pula perbedaan keadaan setiap pembaca.

Berdasarkan paparan di atas, jika semua jurusan di dalam pemaknaan setiap pembaca “diakui” valid dan selalu labil,   lalu mengapa diperlukan teori sastra? Memang benar bahwa setiap pembaca mempunyai hak dan potensi untuk memberi makna, namun sebuah  teori pembacaan yang “which would account for the possibilities of interpretation, … which do not permit the work to be given just any meaning” (Culler, 1975: 119) tetaplah diperlukan. Oleh sebab itulah teori sastra tetaplah dibutuhkan agar meskipun penafsiran dan respon secara kodrat bukanlah objek yang dapat dikumpulkan dan dianalisis menjadi simplifikasi yang mudah namun dengan adanya teori sastra seseorang dapat mempelajari pemberian makna pada sebuah karya dengan kejelasan prosedur pemaknaan yang bertanggungjawab atas penafsiran yang dibuat  meskipun tak bisa dipungkiri bahwa hal ini tetap mengandung risiko akan adanya distorsi yang masif dari pemakaian prosedur tersebut (bdk. Culler, 1981: 49). Sebagai penutup, pemunculan argumen bahwa pembaca turut berkontribusi terhadap pemaknaan sebuah teks merupakan sebuah tantangan bagi kaum formalisme yang hanya berorientasi pada teks di dalam mencari makna dan kaum romantik-humanis yang menekankan makna yang digenerasi lewat pengetahuan akan kehidupan dan pikiran pencipta karya.

DAFTAR PUSTAKA

Culler, Jonathan. 1975. Structuralist Poetics, Stucturalism, Linguistics and the Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.

_____________. 1981. The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature, Deconstruction. New York: Cornell University Press.

Eneste, Pamusuk (ed.). 1989. Sitor Situmorang; Bunga di Atas Batu (Si Anak Hilang) – Pilihan Sajak 1948-1988. Jakarta: PT Gramedia.

Fish, Thomas E. 1999. A Critical Summary of  Iser, Wolfgang. “Readers and the Concept of the Implied Reader.” The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. Johns Hopkins UP, 1978. 27-38. Rpt. in Contexts for Criticism. Ed. Donald Keesey. 3rd ed. Mountain View, CA: Mayfield, 1998. 158-65. Diakses 25 April 2011 pukul 18:30 WIB lewat alamat laman: http://english.ucumberlands.edu/litcritweb/theory/iser.htm

Junus, Umar. 1981. Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Meerzon, Yana. Theatre versus Identity; On The Problem of Aesthetic Perception of The Emigré Theatre Audience. Diakses 26 April 2011 pukul 06:43 WIB lewat alamat laman: http://www.utoronto.ca/tsq/01/theatervsidentity.shtml

Pradopo, Rachmat D. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Creative Commons License
Sastra dan Pembaca by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s