Home » Academic Article » Sastra dan Psikologi

Sastra dan Psikologi

Sebenarnya, sastra dan psikologi adalah dua hal yang berbeda. Psikologi adalah ilmu tentang perilaku (Kendler, 1963: 2) dan bukan hanya studi ilmiah perilaku namun juga pikiran (Kassin, 2008: 1). Sedangkan definisi yang lebih lengkap diberikan oleh Kagan dan Haveman. Mereka mendefinisikan psikologi sebagai:

Psychology is the science that systemically studies and attempts to explain observable behavior and its relationship (1) to the unseen process, mental and physical that go on inside the organism, and (2) to external events in the environment (1976: 8).

Sebagai simpulan, psikologi adalah ilmu yang berusaha mencari jawaban atas problematika jiwa (psyche) dan atau mencari gambaran tentang bagaimana pikiran (mind, mental, attitude) manusia dapat mempengaruhi perilaku atau respon manusia.

Lalu bagaimanakah 2 hal yang berbeda, psikologi dan sastra, bisa saling bertaut?  Sudah merupakan kemahfuman bahwa sastra adalah representasi kehidupan manusia. Dan oleh sebab itulah maka psikologi, sebagai sebuah ilmu yang “menganalisis” manusia seperti telah diterangkan di atas, masuk ke dalam studi sastra.  Wellek dan Warren (1970: 81) menjabarkan tentang bagaimana psikologi dapat diterapkan di dalam studi sastra. Ada empat hal yang menjadi perhatian yaitu: studi tipe karakter psikologis seorang pengarang, studi tentang proses penciptaan suatu karya, studi mengenai tipe atau teori psikologi yang muncul di dalam karya, dan yang terakhir adalah efek suatu karya terhadap penikmatnya. Sekarang menjadi jelaslah sudah bagaimana ilmu psikologi dapat masuk di dalam studi sastra.

Sebenarnya, studi sastra dengan pendekatan psikologi disulut oleh Freud dengan pernyataan bahwa:

The artist is originally a man who turns from reality because he cannot come to terms with the demand for the renunciation of instinctual satisfaction as it is first made, and who then in phantasy-life allows full play to his erotic and ambitious wishes. But he finds a way of return from this world of phantasy back to reality; with his special gifts, he moulds his phantasies into a new kind of reality, and men concede them a justification as valuable reflection of actual life. Thus by a certain path he actually becomes the hero, king, creator, favourite he desired to be, without the circuitous path of creating real alterations in the outer world (dalam Wellek dan Warren, 1970: 82).

Dengan kata lain, Freud menyatakan bahwa setiap penyair adalah “pelamun” yang lari dari kenyataan hidup. Menurut Freud, kreativitas adalah bentuk dari pelarian terhadap apa yang dialami seorang pengarang. Jadi kesimpulan tentang kepribadian pengarang dapat diperoleh lewat studi atas beberapa karya pengarang (Hardjana, 1994: 63 – 64) karena, masih menurut Freud, “setiap karya sastra adalah sebuah museum alam bawah sadar, suatu bentuk kontemplasi dari alam bawah sadar lewat sesuatu yang mungkin diejawantahkan” (dalam Thorpe ed., 1967: 75). Dan bentuk pengejawantahan tersebut bukan melalui hal yang bersifat destruktif namun kepada sesuatu pelarian total dari represi dan bahwa keajegan pola pada karya-karya suatu pengarang merupakan proyeksi mental atau jiwa seorang pengarang. Sebagai misal, studi terhadap karya-karya Iwan Simatupang dapat atau tidak jika dikaitkan dengan bentuk escapism kematian istri tercinta dan kemudian dari studi tersebut dapatlah dibentuk suatu analisis kepribadian Iwan Simatupang. Absurditas sebagai suasana yang muncul di dalam karya-karyanya akan dapat menampilkan suatu kesimpulan tentang bagaimana keadaan jiwa Iwan Simatupang. Sedang pada kajian sastra pop, sebagai misal, lirik lagu-lagu Ahmad Dhani dapatlah dijadikan objek mengenai proyeksi jiwa Ahmad Dhani yang dipenuhi “cinta mati”, “cinta bertepuk sebelah tangan”, dan “cinta yang harus membunuh saingan”.

Ketika berbicara tentang studi terhadap proses kreatif suatu karya, perlu diingat teori psikoanalisis menyatakan secara gamblang bahwa kelahiran suatu karya tidaklah hanya melulu karena kebutuhan seseorang untuk melarikan diri dari kenyataan. Bahan yang dimiliki seseorang di alam bawah sadarnya masih membutuhkan proses kreatif; pengelolaan dan penciptaan (Crews dalam Thorpe ed., 1967: 85). Analisis terhadap proses kreatif membutuhkan pengetahuan tentang riwayat hidup dan dokumen-dokumen pribadi seorang pengarang yang relevan dengan kelahiran suatu karya. Tolok ukur studi adalah kombinasi antara pikiran sadar dan bawah sadar. Pertanyaan yang bisa dicarijawabnya adalah keadaan mental yang bagaimana yang dialami seorang pengarang dan alasan logis seperti apakah sehingga dapat muncul sebuah karya atau dapatlah dikatakan bahwa kajian ini berusaha menggambarkan persepsi pengarang terhadap realitas yang dialaminya. Analisis model ini berusaha membedah bagaimana seorang pengarang “merespon dan mentransfer” personalisasi dunia nyata ke dalam dunia fiksi[i].

Sajak “Senja di Pelabuhan Kecil”[ii] dapatlah dijadikan objek kajian psikoanalisis tentang keadaan mental dan proses kreatif Chairil Anwar pada saat sajak diciptakan. Proyeksi muram, diksi yang membuat sesak, pengetahuan akan cinta Chairil Anwar yang tertolak oleh Sri Ajati dan keadaan sekitar Chairil Anwar pada saat itu dapatlah menjadi fokus di dalam analisis sajak tersebut. Analisis model ini yang telah berhasil dilakukan dapat kita baca misalnya pada kajian Bushra Naz (2011) ketika membedah karya Franz Kafka, The Hunger Artist[iii] dan Asep Supriadi (2006)[iv] manakala menghadapi karya Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta”[v]. Buku yang bagus untuk mulai mengelindani analisis model ini adalah Proses Kreatif (1983) buah tulis Brewster Ghiselin.

Bentuk lain aplikasi teori psikologi di dalam sastra adalah studi mengenai tipe kepribadian atau teori psikologi yang muncul di dalam sebuah karya sastra dengan menggunakan karakter di dalam sebuah karya sebagai objek kajian. Dus, kajian model ini dapat dikatakan bersifat intrinsik. Teori-teori psikologi dipakai di dalam menganalisis keadaan jiwa seorang karakter. Sebagai misal, di dalam cerita pendek Edgar Allan Poe “The Fall of The House of Usher”[vi] dapatlah digunakan analisis kelainan jiwa psikoneurotik berdasar teori psikologi George W. Kisker terhadap karakter Roderick Usher seperti dilakukan Sri Rahayu (2002). Contoh lain adalah penggunaan model motivasi hirarki 6 tingkat Abraham Maslow terhadap karakter Clyde Griffiths di dalam novel masterpiece-nya Theodore Dreiser “An American Tragedy”[vii] atau bisa juga analisis karakter tersebut dilakukan dengan mengkaji konflik batin tokoh Clyde Griffiths dengan model konflik struktural batin ala Sigmund Freud; id, ego, dan superego. Teori psikologi Sigmund Freud ini juga bisa dipakai di dalam analisis kepribadian karakter-karakter yang ada di dalam karya Stephen Crane “The Open Boat”[viii]. Sedangkan contoh yang lain adalah semisal penggunaan teori mimpi Jung di dalam menganalisis mimpi Santiago di dalam “The Old Man and The Sea”[ix] sehingga dapat dibentuk gambaran mengenai kepribadian Santiago yang utuh.

Saat berbicara studi psikologi terhadap karya sastra bilamana dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap pembaca, maka operasionalisasi studi dapat dilakukan dengan analisis terhadap perubahan sikap dan atau perilaku yang terjadi setelah pembaca menikmati sebuah karya sastra. Contoh analisis model ini adalah karya Harriet Beecher Stowe “Uncle Tom’s Cabin”[x]. Novel ini mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pembacanya sehingga sejarah Amerika mengalami perubahan (Kaufman, 2006: 18). “Uncle Tom’s Cabin” berhasil mengubah pandangan sebagian besar orang Amerika pada saat itu mengenai definisi baik dan buruk perbudakan sehingga muncul gerakan abolitionist. Contoh lain aplikasi studi psikologi pada hubungan karya sastra dengan pembacanya adalah misalnya analisis terhadap karya Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta” dengan sebuah hipotesis apakah karya ini berhasil mengubah persepsi psikologis masyarakat Indonesia mengenai poligami sebagaimana dengan kajian yang berbeda[xi] Sukirno (dalam Efendi (ed.), 2008: 265) menyimpulkan sebuah klaim mengenai kesuksesan novel “Ayat-ayat Cinta” di dalam mencelupi persepsi psikologis masyarakat dunia [dan tentu saja masyarakat Indonesia] tentang kebaikan poligami di dalam Islam dan atau kebaikan ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Crews, Frederick C.  1967. “Literature and Psychology” dalam Relations of Literary StudyEssays on Interdisciplinary Contributions. Thorpe, James (ed.).  New York: Modern Language Association of America.

Efendi, Anwar (ed.). 2008. “Karakteristik Wacana Habiburrahman El Shirazy dalam Novel Ayat-ayat Cinta: Kajian Analisis Wacana Kritis” dalam Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ghiselin, Brewster. 1983. Proses Kreatif terjemahan Wasid Soewarto dari judul asli The Creative Process. Jakarta: Penerbit Gunung Jati.

Goldmann, Lucien. 1975. “The Genetic Structuralist Method in the History of Literature” di dalamTowards a Sociology of the Novel terjemahan Alan Sheridan dari judul asli Pour une sociologie du roman. London: Tavistock Publications.

Hardjana, André. 1994. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kagan, Jerome dan Ernest Haveman. 1976. Psychology: An Introduction third edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Kassin, Saul. 2008. “Psychology.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.

Kaufman, Will. 2006. The Civil War in American Culture. UK: Edinburgh University Press.

Kendler, Howard. 1951. Basic Psychology. California: Santa Barbara University.

Naz, Bushra. 2011. “Hope of Death as The Possibility of Life: A Psychosemiotic Reading of Franz Kafka’s The Hunger Artist as the Narrative of Existence into Non Being” dalam Pakistan Journal of Social Sciences (PJSS), Vol. 31, No. 1 (June 2011), hlm. 65-77.

Rahayu, Sri. 2002. Psychoneurotic Disorder in Roderick Usher in “The Fall of The House of Usher” by Edgar Allan Poe (Psychological Analysis) sebuah Skripsi. Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret.

Supriadi, Asep. 2006. Transformasi Nilai-nilai Ajaran Islam dalam “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El-Shirazy: Kajian Interteks, sebuah Thesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

Wellek, René dan Austin Warren. 1970. Theory of Literature 3rd Edition. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.


[i] Kajian model ini bertumpang tindih dengan pendekatan Strukturalisme Genetik ala Lucien Goldmann (bdk. Goldmann, 1975: 156-171).

[ii] Sajak karya Chairil Anwar yang ditulis pada tahun 1946.

[iii] Cerita pendek yang terkenal dari Franz Kafka, terbit pertama kali di Die Neue Rundschau tahun 1922. Judul asli cerpen ini adalah Ein Hungerkünstler.

[iv] Meskipun Asep Supriadi tidak menggunakan kajian psikologi di dalam analisisnya terhadap novel Ayat-ayat Cinta, namun ketika melalui pisau Intertekstualitas (Kajian Hipogramatika) Asep Supriadi menyatakan novel ini adalah hasil “resepsi aktif Habiburrahman El-Shirazy terhadap pembacaan teks-teks [Quran dan Hadist]” sehingga pandangan penulis terhadap isu poligami tercermin di dalam novelnya, maka ia bisa juga dikatakan sudah melangkah ke model analisis psikologi (cf. Supriadi, 2006: xi).

[v] Novel Ayat-ayat Cinta terbit pertama kali tahun 2004 dan diterbitkan oleh Basmala & Republika.

[vi] Cerita pendek karya Edgar Allan Poe. Terbit pertama kali September 1839 di majalah Burton’s Gentleman’s Magazine. Cerita ini kemudian terbit tahun 1840 di dalam kumpulan karya Edgar Allan Poe berjudul Tales of the Grotesque and Arabesque.

[vii] Sebuah novel, terbit pertama kali tahun 1925, penerbit: Boni & Liveright.

[viii] Cerita pendek, terbit pertama kali 1897 di Scribner’s Magazine, lalu masuk di dalam kumpulan cerita pendek karya Stephen Crane pada tahun berikutnya, 1898, berjudul The Open Boat and Other Tales of Adventure, penerbit: Doubleday & McClure.

[ix] Sebuah novella yang ditulis oleh Ernest Hemingway pada tahun 1951 dan diterbitkan oleh Charles Scribner’s Son pada tahun 1952.

[x] Terbit 1852, penerbit: John P. Jewett and Company. Novel ini diyakini oleh Will Kaufman sebagai penyulut Perang Saudara di Amerika pada tahun 1861-1865 (Kaufman, 2006: 18).

[xi] Dikatakan berbeda sebab Sukirno mengkaji novel “Ayat-ayat Cinta” dengan analisis wacana. Justru yang menjadi pertanyaan dan belum dijawab oleh Sukirno adalah mengenai tolok ukur keberhasilan wacana yang disampaikan oleh novel “Ayat-ayat Cinta” mengenai kebaikan ajaran Islam terhadap para pembacanya: Apakah berdasar jumlah cetak ulang novel tersebut dan sukses besar ketika diangkat ke layar lebar? Ataukah “hanya” karena novel tersebut sudah menepati karakteristik wacana kritis sehingga dikatakan berhasil? (bdk. Sukirno dalam Efendi, 2008).

Creative Commons License
Sastra dan Psikologi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s