Home » Academic Article » Sastra dan Struktur

Sastra dan Struktur

Piaget menjelaskan bahwa ide tentang strukturalisme berkembang dari tiga hal yaitu: totality, transformation, dan autoréglage. Totality artinya bahwa struktur harus dinilai sebagai satu kesatuan, satu totalitas. Suatu struktur merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk yang memiliki hubungan dan saling terikat Transformation berarti bahwa suatu struktur menjadi unsur dari struktur yang lebih besar. Atau dengan kata lain, suatu struktur selalu di dalam proses bertransformasi. Autoréglage artinya bahwa secara kodrati sebuah struktur terlindungi dari deviasi sehingga menjadikan suatu struktur dapat terus berkembang menjadi struktur yang lebih kompleks (Piaget, 1995: 3 – 12).

Di dalam ranah sastra, penerapan tiga hal tersebut juga dikatakan oleh Kenney (1966: 5) dengan kalimat “[yang dimaksud dengan] analisis terhadap karya sastra adalah kegiatan mengidentifikasi elemen-elemen penyusun karya tersebut, dan lalu menjelaskan hubungan antarelemen sebagai suatu kesatuan. Bentuk final dari analisis adalah sebuah simpulan bahwa suatu karya sastra merupakan kesatuan yang padu dan kompleks”. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa ide tentang strukturalisme di dalam analisis karya sastra merujuk pada identifikasi unsur-unsur yang membentuk totalitas. Untuk lebih jelasnya, secara garis besar pendekatan struktural dapat dirumuskan sebagai berikut (Atmazaki, 1993: 124):

  1. Karya sastra mempunyai struktur, yaitu suatu kesatuan yang bulat dan bersistem.
  2. Setiap unsur di dalam karya sastra saling berkaitan dan fungsional atau saling berkaitan
  3. Nilai keseluruhan karya sastra dibentuk atas nilai unsur-unsurnya.
  4. Unsur-unsur di dalam suatu karya sastra tidak mempunyai makna sendiri-sendiri, namun unsur-unsur tersebut secara bersama-sama membentuk makna menyeluruh. Atau dengan kata lain, makna unsur suatu karya sastra bukanlah makna karya sastra, namun hanya makna unsur itu sendiri.

Berdasar sejarahnya, sebenarnya pendekatan struktural pada karya sastra pada awalnya dimulai oleh Aristoteles (Teeuw, 1984: 120) lewat bukunya Poetika. Aristoteles menyatakan bahwa suatu karya sastra haruslah dilihat dari kebagusan konstruksi antara order (tata urut sehingga konsistensi terjaga dan konsekuensi sebab-akibat menjadi masuk akal), amplitude atau complexity (kekompleksan ruang lingkup yang memungkinkan sebab-akibat mendapat tempat dan dapat dirunut), unity (kepaduan sehingga plot menjadi jelas), dan coherence (koherensi yang berarti bahwa suatu karya sastra menyusun plot dalam pilahan kejadian-kejadian yang relevan dalam penghubungan sebab-akibat) (Teeuw, 1984: 121).

Kritik struktural, atau dulu awalnya disebut kritik formalis, menitikberatkan pada analisis unsur internal pada suatu karya sastra. Kritik struktural bersikeras bahwa suatu karya sastra bersifat mandiri dalam artian bahwa kehidupan penulis, latar sosial penciptaan, pandangan filosofis seorang penulis merupakan hal yang tidak relevan di dalam kritik. Tindak kritik struktural hanyalah pembacaan rapat atau close reading dalam membongkar dan memaparkan keterkaitan semua unsur yang ada di dalam suatu karya di dalam mengkonstruksikan suatu totalitas (Teeuw, 1984: 135; Guerin et al, 1979: 76). Kritikus struktural percaya bahwa nilai objektivitas suatu kritik dapat diperoleh dengan cara yang demikian.

Berbicara mengenai kritik struktural, buku Structuralist Poetics dari Jonathan Culler (1975) mungkin termasuk rujukan yang komprehensif di dalam memahami kaidah kritik struktural. Saat kita tadi merujuk tentang bagaimana close reading itu dilakukan maka Culler menyarankan istilah poetika kaum struktural. Poetika kaum struktural bukanlah suatu kesatuan organis yang menjadi standar nilai namun lebih kurang adalah sebagai suatu hipotesis teknik pembacaan intens (Culler, 1975: 263) yang dengannya seorang pembaca bakal berpartisipasi ke dalam teks dengan baik secara intens sehingga pada produk finalnya akan mampu menyingkap apa yang ada di balik teks dengan cara sistematis (Culler, 1975: 259).

Culler mengajukan suatu hipotesis operasi pembacaan intens dalam konteks kritik strukturalis terhadap sajak dan novel. Ia menyatakan bahwa pembacaan intens kaum strukturalis terhadap sajak beroperasi pada: (1) distance dan deixis, (2) organic wholes, (3) theme dan epiphany, (4) resistance dan recuperation (1975: 164 – 188) sedangkan pada novel, pembacaan berfokus pada: (1) lisibilité dan illisibilité, (2) narrative contracts, (3) codes, (4) plot, (5) theme dan symbol, (6) character (1975: 189 – 238).

Pada pembacaan intens terhadap sajak, deixis adalah fitur-fitur orientasional bahasa yang berkait dengan situasi ujaran semisal: “aku”, “kau”, dan subjek lain yang terlibat di dalam teks, kata tertentu yang bisa merujukkan pada konteks di luar teks, kata keterangan waktu yang merujukkan pada waktu tertentu, kata kerja yang sengaja tanpa prefiks dll.. Karena menurut strukturalis sajak adalah dunia yang otonom, maka dapatlah dikatakan bahwa sajak tidaklah secara kontekstual eksplisit, atau malah tidak sama sekali, terkait dengan waktu tertentu sebagaimana berita surat kabar atau fragmen biografi dan tidak pula secara interpersonal terkait dengan orang-perorang (Culler, 1975: 165). Dengan istilah lain, konstruksi citraan kita akan dunia yang dibentuk oleh sajak yang kita baca adalah sebenarnya suatu bentuk tafsir tersendiri, dan tergantung dari pengalaman subjektif, yang disulut oleh pem-bacatafsir-an bahasa. Untuk pemahaman lebih lanjut mengenai deixis dapat dibaca pada tulisan saya pada halaman lain dengan judul ‘Pragmatik dan Lingkupnya’.

Sedangkan distance merujuk pada selalu adanya jarak antara pembaca dan penyair. Di satu sisi, pembaca strukturalis berusaha menekankan akan independensi sebuah teks sehingga dapat menciptakan figur persona fiktif, karena operasionalisasi mengarahkan pembaca strukturalis untuk berlaku demikian, namun mustahil lepas dari bayang-bayang eksistensi penyair. Proses demikian adalah disebut naturalisasi, saat di mana terjadi tarik ulur jarak antara pembaca dan bayang-bayang pencipta saat pembacaan suatu teks menghasilkan dunia yang unik (Henri Meschonnic dalam Culler, 1975: 170).

Organic wholes dapat diartikan sebagai ekspektasi pembaca yang secara alami bakal menganggap dan lalu mengoperasikan setiap bagian dari teks sebagai bagian integral dari keseluruhan teks. Ekpektasi akan totalitas atau koherensi suatu teks selalu terjadi di dalam setiap pembacaan. Dan dengan demikian maka pemaknaan akan beroperasi sepanjang batasan yang diekspektasikan menuju kerucut tematis sebagaimana telah dimunculkan di dalam kajian oleh Jakobson, Greimas, Todorov, dan juga Barthes (Culler, 1975: 171 – 172). Bahkan secara ironis dikatakan pula oleh Culler bahwa:

It is at least a plausible hypothesis that the reader will not feel satisfied with and interpretation unless it [the interpretation] organizes a text to one of these formal models of unity (1975: 174).

Theme dan epiphany merujuk kepada konvensi atau ekspektasi pembaca terhadap suatu teks. Pembaca selalu, tanpa disadarinya, membaca teks sajak dengan memiliki asumsi bahwa teks sajak tersebut baik sedikit atau banyak, baik sederhana maupun kompleks, memiliki potensi keindahan sebagai sajak. Oleh sebab itulah pembacaan sajak lebih merupakan suatu proses pencarian letak estetika sajak atau memakai istilah Culler “to grant it[s] significance and importance” sehingga secara tidak sadar lalu melembagakan teks tersebut sebagai sajak (1975: 175). Lalu terjadilah apa yang disebut dengan epiphany (atau kurang lebih dapat diterjemahkan sebagai “momen tercerahkan”) sehingga signifikansi tematis menjadi terproduksi (Culler, 1975: 177 – 178). Hal ini misalnya dapatlah diambil contoh pada kasus pembacaan terhadap sajak Robert Frost “The Road not Taken”. Oleh sebab pembaca menganggap bahwa teks “The Road not Taken” adalah sajak, maka peristiwa pemilihan jalan bercabang di sebuah hutan dapatlah memproduksi signifikansi tematis akan simbolisasi pilihan dalam hidup yang berimplikasi pada perbedaan jalan hidup seterusnya.

Resistance dan recuperation merupakan hal terakhir yang dibahas Culler di dalam bukunya, Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature, sebagai bagian dari poetika sajak. Resistance merujuk kepada kemampuan sajak di dalam memperlambat kejelasan makna yang diproduksi lewat permainan gaya bahasa dan format penulisan (Culler, 1975: 179). Saat di mana seorang pembaca mulai memahami kekaburan ini, maka ia mengalami recuperation (vraisamblable) atau penyadaran dari dunia yang sebelumnya kabur dan mungkin ambigu. Hal ini juga berlaku pada permainan tipografi semisal dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri “Tragedi Winka Sihka” yang berbentuk huruf Z bakal mungkin ditafsir oleh kaum strukturalis sebagai esensi sajak tersebut. Bahwa sajak tersebut berakhir (“Z” adalah huruf terakhir) di tempat tidur (“Z” adalah simbol komikal universal dengkur orang tidur). Demikian disebabkan bahwa kaum strukturalis tidak melihat kekacauan tipografi sajak “Tragedi Winka dan Sihka” tersebut sebagai tidak bermakna namun merupakan petunjuk untuk menyusun ulang konteks pembacaan.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, pembacaan novel berdasarkan poetika novel merujuk kepada 6 hal yaitu: lisibilité dan illisibilité, narrative contracts, codes, plot, theme dan symbol, dan character. Ekpektasi dari kaum strukturalis ketika membaca novel adalah adanya keterkaitan antara plot, tema, dan karakter. Lisibilité dan illisibilité terkait dengan koherensi dan kelogisan kait antara plot, tema, dan karakter yang disadari pembaca ada di dalam sebuah novel sebagai menantang untuk penafsiran dunia di dalam novel berpijak kepada dunia sebenarnya. Ambil contoh misalkan “Khotbah di atas Bukit” karya Kuntowijoyo dianalisis, maka bisa jadi muncul analisis sebagai berikut: bahwa Barman (metatesis dari brahman, pandita), seorang karakter yang sudah tua, akhirnya mendapat pencerahan dan tidak mempedulikan lagi Popi (permainan kata dari istilah “pop”, “populer”, disukai banyak orang, kesenangan), seorang karakter yang masih muda. Barman lalu menjadi seorang yang dianggap suci dan akhirnya beroleh pengikut meskipun akhirnya pengikutnya kecewa karena khotbah Barman di atas bukit tidak menyiratkan pesan yang jelas.

Barman ditafsirkan sebagai metatesis dari brahman karena mirip kata dan usia Barman yang sudah tua. Tua dianggap sebagai fase tercerahkan di dalam hidup seseorang. Sedangkan Popi ditafsirkan sebagai pop adalah karena ia sesuatu yang ditinggalkan oleh seorang pandit: kesenangan hidup. Klimaks dicapai pada momen khotbah di atas bukit adalah sebagaimana menjadi keberterimaan umum. Sedangkan inti dari cerita adalah ‘pencerahan tidaklah bisa gampang ditransfer ke orang lain’ sebagaimana pengikut Barman merasa tidak mendapatkan apa-apa sepeninggal Barman.

Narrative contracts atau dapat diterjemahkan sebagai kontrak-kontrak naratif adalah unsur dari struktur novel yang menunjukkan terpenuhinya kontrak-kontrak tersebut. Kontrak-kontrak naratif meliputi tiga hal yaitu: (1) deduksi dan keterkaitan model bagaimanakah yang ditampilkan narator di dalam novel (Culler, 1975: 195), (2) bagaimanakah narator membentuk dunia suatu novel yang bisa dibayangkan oleh pembaca (Culler, 1975: 196-197), (3) bagaimanakah posisi narator di dalam membawa pembaca memperoleh makna (Culler, 1975: 200 – 201).

Unsur ketiga adalah codes. Codes adalah hal-hal di dalam novel yang berkait dengan latar budaya, pemahaman sebab-akibat, pengetahuan fitur-fitur semantis, pembacaan simbolis dan tematis (Culler, 1975: 202 – 203). Kemudian unsur keempat yang masuk hitungan adalah plot. Plot dapat diartikan sebagai “susunan peristiwa berdasarkan kaitan sebab akibat” (Kenney, 1966: 13).

Theme dan Symbol di dalam rumusan Culler mengenai poetika strukturalis merupakan dua hal yang saling terkait. Ia sebagaimana mengikut pendapat Barthes percaya bahwa kondensasi simbolis muncul karena adanya oposisi tematis (Culler, 1975: 225). “The Old Man and The Sea” karya Hemingway, sebagai contoh, dapatlah dikatakan sebagai simbol bahwa kehidupan adalah misteri karena kisah pergulatan di dalamnya menampilkan oposisi tematis kehidupan Santiago antara beruntung/apes, jagoan/pecundang, manusia/alam. Dan unsur yang terakhir adalah character. Karakter menurut Steinmann dan Willen adalah “persona fiktif yang digambarkan atau dihidupkan di dalam karya sastra rekaan (1967: 697). Kaum strukturalis menganalisis karakter-karakter yang ada di dalam novel sebagai bagian yang penting. Meskipun demikian, Culler menyoroti kaum strukturalis sebagai tidak utuh di dalam analisis sebuah karakter. Ia menilai bahwa kaum strukturalis hanya menghakimi sebuah karakter berdasarkan definisi pemodelan kultural (Culler, 1975: 237). Saat seorang pembaca strukturalis menahbiskan sebuah karakter sebagai penjahat, sebenarnya atribut-atribut mengenai penjahat yang didefinisikan oleh pemodelan kultural pembaca-lah yang bermain. Namun bagaimanapun hal ini tidak bisa dihindari mengingat penjabaran sebuah karakter di dalam novel tidaklah bisa detil dan juga adanya kebutuhan cerita untuk mempunyai karakter jahat dan juga karakter baik.

Selain model yang diajukan oleh Culler di atas, ada model lain yang sering dipakai di dalam analisis struktural. Model tersebut disebut dengan explication du text atau juga populer disebut sebagai model formalis Perancis. Mengenai prosedurnya dapat dibaca dari buku Kritik Sastra: Sebuah Pengantar dari André Hardjana (1994). Di dalam bukunya tersebut Hardjana memasukkannya di dalam satu bab tersendiri beserta pemaparan yang komprehensif mengenai prosedur model analisis explication du text.

DAFTAR PUSTAKA

Atmazaki. 1993. Analisis Sajak: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung: Penerbit Angkasa.

Culler, Jonathan. 1975. Structuralist Poetics; Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.

Guerin et al. 1979. A Handbook of Critical Approaches to Literature (2nd edition). New York: Harper & Row Publishers, Inc.

Hardjana, André. 1994. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kenney, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.

Piaget, Jean. 1995. Strukturalisme terjemahan oleh Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Steinmann, Martin dan Gerald Willen. 1967. Literature for Writing. Belmont, Ca: Wadsworth Publishing Company, Inc.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Creative Commons License
Sastra dan Struktur by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s