Home » Academic Article » Semiotik sebagai Teori Pembacaan

Semiotik sebagai Teori Pembacaan

(part two from THE PURSUIT OF SIGNS by JONATHAN CULLER)

Arus yang hendak dikedepankan adalah penolakan penafsiran suatu teks dengan makna yang tunggal dan tantangan bagi para kritikus adalah usaha untuk mencari makna yang tunggal tersebut (hlm. 47) jikalau makna suatu karya adalah makna yang dimaksud oleh pengarang, atau makna yang mungkin diyakini oleh pembaca ideal pada masanya, atau apa yang dianggap sebagai kedetilan tanpa mengesampingkan norma kesejarahan dari suatu genre, maka kritik seperti itulah yang dianggap sebagai kritik yang benar (hlm. 48) namun teori seperti itu tidak memengaruhi pembaca dan kritik untuk membatasi kemajemukan penafsiran, dan munculnya teori-teori yang bersaing dalam memenangkan penafsiran (hlm. 48).

Semiotik muncul di bawah naungan bahwa aktivitas sastra adalah usaha pencarian identifikasi konvensi dan operasi kegiatan penandaan menghasilkan efek makna yang dapat diamati (hlm. 48). Penyidikan semiotik hanya dapat terwujud bilamana seseorang berhadapan dengan bentuk penandaan atau komunikasi (hlm. 48). Oleh karenanya semiotik sastra didasarkan atas dua asumsi, yang keduanya dapat dipertanyakan: satu, bahwa sastra seharusnya diperlakukan sebagai bentuk penandaan dan komunikasi, sehingga dengan demikian pendeskripsian makna karya kudu merujuk pada pembaca; kedua, bahwa seseorang dapat mengidentifikasi efek penandaan yang diinginkan oleh orang lain (hlm. 48 – 49).

Namun kedua argumen tadi menimbulkan bantahan. Teknik apapun yang hendak meraih makna yang berlaku pada pembaca, bagaimanapun juga menghasilkan distorsi yang masif, baik karena pertanyaan yang coba dijawab akan menyulut suatu refleksi yang tidak merupakan respon yang orisinal, atau bisa jadi prosedur yang dipakai malahan membangkitkan beberapa respon dan penafsiran. Bahwa meskipun benar bahwa suatu karya memiliki pengaruh kepada pembaca dan menyulut efek penandaan, namun efek tersebut, seperti argumen yang mengemuka, bukanlah isi yang dapat direngkuh, dikatalogkan, dan dipelajari (hlm. 49).

Pendapat tersebut merupakan dasar yang logis atas keberatan terhadap semiotik. Bilamana bertemu dengan keberatan seperti itu, seorang semiotikan harus pandai bersilat lidah memilih dua strategi yang mungkin (hlm 49). Dia bisa saja tidak setuju, dengan menandaskan bahwa sastra adalah suatu bentuk komunikasi dan apa yang tersampaikan darinya tidak bisa tidak untuk diabaikan. Atau dia bisa saja setuju dengan keberatan tersebut dan secara moderat mengklaim peran yang menyurut yang ada di dalam penafsiran (hlm 49). Meskipun penafsiran dan respon bukanlah bagian dari struktur karya sastra, keduanya merupakan aktivitas kultural yang penting yang harus dipelajari; dan meskipun respon-respon bukanlah objek yang dapat dikumpulkan dan dianalisis, namun ada beberapa catatan mengenai respon-respon dan penafsiran-penafsiran yang dapat dipakai oleh semiotik. Oleh sebab komunikasi mengambil peran, oleh sebab penafsiran dicatat, seseorang dapat mempelajari penandaan kesusastraan dengan mencoba  menjelaskan konvensi dan operasi semiotik yang bertanggungjawab atas penafsiran yang ada (hlm. 49).

Pada akhirnya, strategi yang dipilih semiotikan akan mempengaruhi klaim yang dibuat atas kesimpulan yang diperoleh namun mungkin tidak melebihi struktur inisiatifnya. Sengototnya dia mengklaim bahwa penghitungan dari operasi penafsiran yang muncul dari esensi sastra, atau bilamana di menampilkan usahanya sebagai studi aktivitas kultural yang dekat dengan ranah sastra, data yang dipakainya adalah penghakiman dan penafsiran dari pembaca dan kesimpulannya merupakan merupakan suatu usaha untuk melakukan penghitungan atas penghakiman dan penafsiran dari pembaca tersebut (hlm. 50).

Malahan, penggunaan semiotik lebih tepat untuk dikatakan sebagai konsep “masuk akal (sense)” dan “menjadi masuk akal (making sense)” lebih daripada konsep “makna (meaning)”, sementara meaning menyiratkan properti (kepemilikan) dari teks (suatu teks ‘mempunyai’ meaning), dan oleh karena itu mengobarkan seseorang untuk membedakan satu makna intrinsik (meskipun mungkin tidak terengkuh) dari penafsiran-penafsiran para pembaca, sedangkan sense berkait dengan kualitas dari suatu tes terhadap operasi-operasi yang dilakukan seseorang atasnya (hlm 50). Satu teks dapat menjadi masuk akal dan seseorang dapat membuat suatu teks menjadi masuk akal. Jika suatu teks pada mulanya tidak masuk akal bagi seseorang kemudian menjadi masuk akal, maka hal itu disebabkan orang tersebut ‘telah’ membuatnya menjadi masuk akal. Membuat jadi masuk akal menyararn bahwa penyidikan penandaan sastra memerlukan penganalisisan operasi penafsiran (hlm. 50).

Ketidaksepahaman semiotikan terhadap penyidikan lain karya sastra:

  • Kasus Five Readers Reading yang menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi di antara 5 pembaca undergraduate (sarjana) bisa saja malah menimbulkan kekonvergenan kesimpulan atau bisa jadi merupakan kesimpulan guyonan kepada Holland yang merupakan guru mereka sebagai pengada penelitian tersebut. Kekeliruan terjadi karena kelima pembaca tadi dibiarkan untuk mengartikan dengan metode free associate (mana suka) (hlm. 52 – 53).
  • Kedua adalah pada kasus Rezeptionsasthetik oleh Jauss. Terdapat tiga keberatan atas penyidikannya, yaitu:
  1. Rekonstruksi horizon of expectation (pengharapan akan kesamaan makna yang diperoleh) adalah dengan cara mencari makna orisinal dari suatu karya dan oleh karenanya memberikan penafsiran yang pas secara historis seakan-akan menafikan majemuk tafsir oleh waktu.

  2. Karena ketertarikan akan makna orisinal dengan memfokuskan pada dalam teks mengesampikan respon yang disulut. Dan ini berarti akan membuang studi kedalaman terhadap makna dan penafsiran yang beraneka ragam yang mungkin timbul di dalam perjalanan waktu.

  3. Jauss lebih mengedepankan kepada keyakinan dan kelaziman bukannya pada operasi penafsiran (hlm. 56 – 57).

Suatu pembacaan semiotik, bagaimanapun juga merupakan suatu usaha untuk bekerja dari suatu asumsi yang unik; bahwa keanekaragaman pembacaan merupakan hasil dari konvensi penafsiran yang dapat dijelaskan. Langkah ini jadi kacau bilamana seseorang mengambil posisi sebagai penghakim (hlm. 67).

Pemaparan di atas memang belumlah menunjukkan secara gamblang apa pembacaan semiotik itu namun telah berusaha menunjukkan bahwa penafsiran adalah sesuatu yang berkait sangat dengan konvensi (hlm. 78). Namun sebagai simpulan dapatlah dikatakan bahwa meskipun dua orang pembaca menafsirkan dengan hasil yang berbeda, keduanya memakai konvensi penafsiran yang dapat didefinisikan dan akan membuat hubungan antara pernyataan tafsir mereka menjadi terpahami (hlm. 78).


REFERENCE

Culler, Jonathan. 1981. The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature, Deconstruction. New York: Cornell University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s